Krisis COVID-19 Nepal Memperparah Kesulitan Perempuan – The Diplomat

Krisis COVID-19 Nepal Memperparah Kesulitan Perempuan – The Diplomat

Gelombang memukul kedua COVID-19 pada Nepal bersama penguncian berikutnya pernah luar biasa mempengaruhi inklusif ahli pada semua grama kurang pada Asia Selatan itu. Kelompok-kelompok yg sebagai historis terpinggirkan terlingkungi dara bujangan – alias dara yg menjanda, putus, alias lubuk pinggan gerogol undak-undakan yg dikepalai sama dara – menjelang tempat yg luar biasa selit belit sebab hawar memperburuk kerumitan kemasyarakatan bersama perdagangan yg hadir bersama menciptakan tantangan yg tiada tersangka.

Pada Mei, Nepal menyimpan keliru suatu lantai COVID teratas pada buana, pada rusuk kesusahan vaksin yg agung. Pada 22 Juli, Nepal pernah menyebarkan jumlah 9.661 akhir hidup terikat COVID bersama 674.726 masalah COVID-19 yg dikonfirmasi per hawar dimulai, mengatasi kuantitas akhir hidup kesan guncangan dunia tarikh 2015 yg menggempur grama itu.

Meskipun masalah melambat pada Lembah Kathmandu sesudah penguncian dwi kamar, COVID-19 pernah naik pada kaukus pedesaan Nepal pada mana alat kebugaran tiada dilengkapi menurut memukul tempat perlu sewarna itu. Dengan terbatas berawal 5 pembasuh tangan rakyat yg divaksinasi peres, hadir probabilitas arus ketiga yg menjulang.

Pandemi ini sebagai perdagangan selit belit potong praktisi suruhan surat kabar bersama praktisi gerogol undak-undakan, yg menggambarkan bagian agung berawal barisan pekerjaan Nepal. Hal ini sebagai tiada sebanding berakhir atas dara, yg menggambarkan dwi pertiga berawal praktisi gerogol undak-undakan pada Nepal. Lebih berawal 90 pembasuh tangan dara yg berpikir pada Nepal yaitu kaukus berawal perdagangan rileks sonder pertahanan kemasyarakatan akan hilangnya profesi alias gaji.

Sebuah menggali ilmu yg dilakukan sama penguasa Nepal yg memperhitungkan konsekuensi seks berawal hawar menjumpai promosi 337 pembasuh tangan lubuk pinggan kuantitas dara yg tiada terbawa-bawa lubuk pinggan profesi berbayar. Dari 465 responden riset pada 12 kabupaten, 83 pembasuh tangan menyebarkan kelenyapan profesi bersama gaji mereka sepanjang hawar. Studi ini pula menjumpai bahwa barang bawaan pekerjaan pembelaan perempuan yg tiada dibayar menumpuk sepanjang penguncian COVID-19 sebab penyudahan kampus bersama penyekatan perpindahan pada pendatang gerogol.

Menikmati gubahan ini? Klik pada sini menurut berlangganan menurut kans peres. Hanya $5 setiap kamar.

Situasi potong inklusif perempuan bujangan sepanjang hawar pernah darurat demi tunggal pencari pendapatan bersama hamba potong regu mereka. Saat ini hadir kesusahan fakta open berkenaan perempuan bujangan sepanjang COVID-19 sebab selit belit menurut menggabungkan fakta sepanjang hawar bersama penguncian, bersama fakta terpilah macam seks yg hadir tiada memilih kapasitas perkawinan.

Women for Human Rights, Single Women Group (WHR), sebuah LSM Nepal yg didedikasikan menurut meluaskan hak-hak dara bujangan, belum lama melaksanakan kumpulan hakikat melintasi Zoom beserta dara bujangan pada bineka daerah pada Nepal menurut menguasai tantangan yg dihadapi dara bujangan sepanjang COVID-19 pada semua grama.

Selama kumpulan hakikat ini, perempuan pada semua kaukus pedesaan Nepal menyebarkan bahwa jiwa beserta kenyataan COVID-19 kerap menetapkan menurut tiada menjalankan ujian sebab ujian PCR luar biasa garib alias tiada gembur diakses. Beberapa perempuan mengasosiasikan bahwa memodali mengangkangi anak-anak mereka sepanjang hawar bersama menyelesaikan bea gerogol undak-undakan itu selit belit, tentu menyelesaikan 1.000 rupee Nepal (sekeliling $10) menurut ujian PCR seiring semuanya tiada merdesa. Beberapa perempuan pula mendiskusikan kegelisahan pemisahan kemasyarakatan alias noda yg terikat beserta ujian COVID-positif, yg semakin mencegah jiwa menurut dites.

Banyak perempuan bujangan memusyawarahkan keahlian badan mereka beserta COVID-19. Seorang ibunda ahad pada Rukum, pada Nepal barat pusat, berbagi perjuangannya sesudah dites aktual. Dia bermukim gabung dwi anaknya yg sedang kurang pada suatu geladak sewaan, tentu menginternir batang tubuh pada gerogol bukanlah satu probabilitas. Meskipun kesusahan gaji sepanjang hawar, dia menakdirkan menurut mengontrak geladak pencaus terhampir menurut menyakukan batang tubuh bersama mengendalikan anak-anaknya berawal penjangkitan COVID-19. Setelah suatu kamar pada pencaus, doski sehat bersama mudik ke gerogol, namun waktu ini menyimpan utang yg berarti menurut dilunasi bersama buncah berkenaan dengan jalan apa doski bakal mengelola finansial.

Perempuan parak pada Nepal pernah sebagai randa kesan COVID-19, menyimpan mereka atas tempat terakhir yg darurat sebagai kemasyarakatan bersama moneter. Ini yaitu masalah seorang perempuan yg bermukim pada Dharan, pada Nepal timur, yg suaminya berpikir demi operator bersama menggambarkan tunggal pencari pendapatan potong regu. Selama arus kedua COVID-19, suaminya terkena bersama sarit radang paru-paru. Dia menyedang memasukkannya ke gerogol lara setempat, namun tiada hadir pembaringan ICU yg tersuguh, tentu mereka angkat kaki ke Biratnagar. Dia dirawat pada gerogol lara pada situ namun berlayar atas yaum kedua. Dia waktu ini bermasalah beserta hutang berawal ugutan gerogol lara, dengan bergumul menurut menyelesaikan carter gerogol, santapan, bersama bea kampus menurut anak-anaknya.

Meskipun perempuan bujangan pada Nepal menyimpan keahlian kehidupan yg terpaut berteraskan faktor-faktor seakan-akan baya, kumpulan alias kesukuan, kasta, gendongan regu, bersama kedudukan, kerumitan perdagangan boleh jadi sebagai utas ahmar yg diperparah sama hawar.

Ketidakamanan perdagangan memperburuk tantangan parak potong dara bujangan pada Nepal. Banyak randa pernah menyebarkan keahlian distigmatisasi alias dikucilkan berawal kaukus komunitas Nepal. Janda khususnya kadang-kadang dianggap tiada warisan, tiada warisan, tiada selektif, alias terlebih bertanggung balasan pada akhir hidup suaminya. Ritual seakan-akan menekan randa memasang tika alias baju ahmar, menceraikan rantai randa, bersama menghunus randa berawal perjumpaan populasi sedang kasar dilakukan pada sejumlah kaukus Hindu pada Nepal.

Namun, sepanjang sejumlah sepuluh tahun buntut, norma-norma kemasyarakatan ini pernah senget. WHR menyelenggarakan tindakan pada Nepal potong getah perca randa menurut membaca mudik bunga-bunga ahmar bersama pernah menyodorkan training kefasihan bersama sanggar kerja sah teras khalayak menurut perempuan bujangan pada semua kampung halaman. Selain itu, akal pembelaan WHR pernah menopang menghunus sejumlah peraturan yg mengendalikan hak-hak dara bujangan, terlingkungi sah menurut menegakkan mal kepunyaan almarhumah junjungan sesudah menikah mudik, sah menurut memperoleh mal perkawinan sonder memperhatikan baya, sah menurut membaca paspor sonder regu laki. perkenan elemen, sah menurut memasarkan alias mengubah kekayaan sonder restu berawal anak-anak masa, bersama sah menurut menyambut bantuan garansi kemasyarakatan perempuan bujangan berawal penguasa sonder memperhatikan baya. Hak-hak tata cara ini berfungsi mendesak lubuk pinggan menyusun modifikasi transformatif potong dara bujangan pada Nepal atas lantai komunitas, namun sedang hadir rel kereta api berjarak pada hadapan.

Selama hawar COVID-19, WHR bersama lembaga hak-hak dara lainnya pada Nepal luar biasa tertumbuk sama kesusahan pemodalan bersama pergeseran pengutamaan. Sebagian agung sumur pemodalan regional direalokasi menurut menolong peka perlu COVID-19. Tetapi walaupun perkiraan luak, lembaga hak-hak dara pernah beradaptasi beserta kepentingan yg bertukar bersama menyelenggarakan ide komunitas sepanjang hawar. Di Kathmandu, WHR menciptakan batu tungku populasi sepanjang kedua penguncian menurut meluangkan santapan sehari-hari potong praktisi surih hadapan. WHR pula nunggangi kawasan penampungannya, yg lazimnya diperuntukkan potong dara bujangan, menurut memproses tunggal induk karantina COVID-19 dara yg mewadahi makin berawal 100 dara migran yg mudik ke Nepal.

Namun melekang berawal akal regional seakan-akan itu, lembaga hak-hak dara pada Nepal sepenggal agung pernah ditinggalkan berawal perencanaan respons COVID-19 bersama sistem pengutipan kata putus pada lantai domestik. Pemerintah Nepal belum sebagai sesuai menginventarisasi isu-isu responsif seks ke lubuk pinggan kebijaksanaan respons pandeminya. Ke hadapan demi kaukus berawal kesan COVID-19, penguasa layak mencatu biaya bersama menginventarisasi advis berawal lembaga hak-hak dara menurut menandaskan bahwa realitas bersama tantangan aktivitas dara bujangan ditangani sepanjang tenggat yg belum sudah terlaksana sebelumnya ini.

Blog