Menabur Benih Bahasa

Menabur Benih Bahasa

AsianScientist (15 November 2021)Ibu, mami, madre, populer’mā, Pernahkah Anda heran kenapa jumlah peri tersebar nyaris sesuai berkualitas adab yg berlainan? Itu lantaran berkualitas jumlah kejadian, adab berperilaku bagai perangai genetik: sira menerus pakai orang-orang pula beroleh ditelusuri sejauh kisah orang, berbagi karakteristik ijmal lantaran aset serentak.

Salah esa kategori tertulis ialah rombongan adab Transeurasia, yg mencaplok adab Jepang modis, Korea, Tungusic, Mongolic pula Turki. Sekarang ditemukan dekat sarwa Eurasia, perdu Transeurasia ialah keliru esa perdu adab yg terserak besar, tapi benar bermula mana asalnya pula betapa penyebarannya ialah interogasi yg suah diperdebatkan sama perdua penyelidik semasih bertahun-tahun.

Sekarang, sebuah mencari ilmu interdisipliner diterbitkan rembulan ini dekat Alam membuktikan kakek moyang yg sesuai bermula rombongan adab Transeurasia harus bernenek-moyang bermula Cina seputar 9.000 tarikh yg kemudian pula penyebarannya didorong sama perkebunan.

Untuk merespons interogasi bab betapa rombongan Transeurasia dimulai, satuan kerja penyelidik yg dipimpin sama Martine Robbeets bermula Institut Max Planck bagi Ilmu Sejarah Manusia mempersatukan tiga lapangan kebijaksanaan: ilmu bahasa, arkeologi, pula genetika.

Tim menghabiskan rancangan kosa peri bermula 98 adab Transeurasia, database kedudukan Zaman Perunggu Neolitik dekat Asia timur samudra pula rampai genom baheula bermula 23 kepala yg kehidupan dekat Korea baheula pula Jepang bagi menyusuri paradigma adab, perkebunan, pula peluasan genetik dekat kalangan.

Analisis bermula tiga rampai bahan menyampaikan kakek moyang yg sesuai pula pemencaran eminen adab Transeurasia beroleh dipetakan ke orang tani millet mula yg berdiam dekat kaki bukit Liao dekat timur samudra China seputar 9.000 tarikh yg kemudian. Ketika dinasti rumpun orang tani alih melewati Asia Timur Laut, mereka membagul adab mereka, menyebarkannya ke paksina pula barat ke Siberia pula sabana pula sesudah ke timur ke Korea pula Jepang.

“Meskipun jumlah tes sebelumnya memandang zona Transeurasia berkecukupan dekat pendatang domain perkebunan, tes patik menjelaskan bahwa usul pemencaran perkebunan/tes malar sebagai tiruan signifikan bagi mahir pemencaran masyarakat Eurasia,” catat perdua penyelidik.

Temuan ini menghadapi ‘usul penggembalaan’ yg menasihati bahwa perdu adab disebarkan sama pengelana yg merawat peliharaan kesempatan mereka mengimbit suntuk bermula sabana timur.

Sebaliknya, kreasi Robbeet bahwa pergerakan adab membayangkan pemencaran perkebunan pula genetik membuktikan ‘usul perkebunan’ hangat bagi mula pula pemencaran keliru esa rombongan adab terbesar dekat buana.

Artikel tertulis beroleh ditemukan dekat: Robbeets et al. (2021) Triangulasi mengangkat pemencaran perkebunan adab Transeurasia.

———

Sumber: Institut Max Planck bagi Ilmu Sejarah Manusia; Foto: Shutterstock.
Penafian: Artikel ini tak membayangkan pendapat AsianScientist alias stafnya.

Blog