Menjaga Warisan Alam Singapura (VIDEO)

Menjaga Warisan Alam Singapura (VIDEO)

AsianScientist (26 November 2021) – Di kepada dirgantara yg sarit, lampu-lampu renik berkelap-kelip posterior rima, seolah bersamba posterior melodi. Meskipun tiada sehebat lampu senter berkerlip yg menghidupkan acara senja, sekatan tersurat ini berpunca per kelip-kelip.

Tampilan bening sebagai itu yakni penglihatan global dekat Singapura, yg melukiskan sudung ransum seputar 10 suku kelip-kelip berselisih yg ditemukan berterbangan dekat seputar pangan bakau dekat Pasir Ris Park lagi agunan mayapada lainnya dekat medan itu. Namun ala Maret 2021, sebuah rombongan mengungkap temuan mengguncangkan per suku kelip-kelip modis berjulukan Luciola singapura—membubuhi cap reka cipta mula-mula seroma itu dekat negara-kota berisi bertambah per wahid era.

Dipimpin sama Dr. Wan Faridah Akmal Jusoh, Peneliti dekat Museum Sejarah Alam Lee Kong Chian (LKCNHM), perdua peneroka mendapatkan bahwa L. singapura selaku partikular menempati pangan redang minuman anyep tiada sebagai perihal ekosistem mangrove minuman masin.

Dengan melacak keunikan terkandung lagi menyelidiki DNA percontoh, Jusoh lagi kawan sanggup mengenali suku modis maupun berpotensi memilah tukas lorek dinasti rumpun serangga yg siap bersumber pada seberapa sanding hubungannya wahid seia sekata asing.

“Ketika hamba memata-matai suku modis kepada mula-mula kalinya, hamba merasa bernas pamrih,” ungkapnya. “Ini menembakkan menderita mau pirsa hamba kepada menyelisik segala sesuatu yg kita miliki waktu ini lagi mengilhami hamba kepada bekerja terhadap tempo dada—waktu ini kita pirsa suku ini siap, segala sesuatu yg cakap kita lakukan kepada melindunginya?”

Sahabat kelip-kelip kita yakni indeks ekosistem yg waras, malah lantaran mereka bukan alang kepalang terbuka kepada transfigurasi dekat lingkungannya, tegas Jusoh. Dari pembuatan perkotaan takat pemakaian racun hama, aplikasi bani Adam sanggup merusuhkan serangga yg gemerlap ini, mengacaukan habitatnya, maupun merembes pokok ilmu pisah bersengat ke berisi lendut sarung mangsanya serupa.

Jusoh melewatkan bahwa mara desain bani Adam lainnya merapat berisi rupa pemancaran desain, sama Singapura bertanggung tangkisan kepada pengotoran kurat terbesar dekat globe mengikuti sebuah meriset warsa 2016. Kunang-kunang miring meninggalkan jebrol berisi koordinasi yg tersurat cemerlang, malahan semasa senja kamar penuh, lantaran sanggup mengharu lampu senter yg berkerlip yg berlaku selaku gaya korespondensi lagi tanda berumah tangga mereka.

Syukurlah, L. singapuraPenemuannya menopang mengundang kesadaran terhadap serangga ceria ini lagi merampas buah pikiran kepada mencegah kemerosotan total komunitas. Ilmuwan sebagai Jusoh menyuluhi realisasi unggul kepada mengizinkan kesibukan sebagai memirsa kelip-kelip seraya selaku perlu menyangkut-nyangkutkan paguyuban setempat kepada mengecilkan impresi wisata kepada tempat tinggal bersahaja mereka.

Bagi Jusoh, reka cipta suku memintas seperjalanan sama advokasinya yg bertambah gendut: perlindungan, menguntungkan hewan ganas maupun sijil saintifik mereka. Peneliti doang sanggup menentukan percontoh selaku modis sama membedakannya per suku asing yg diketahui, tapi ketaksimetrisan informasi kerap menghambat usaha kategorisasi ini.

“Saat menggeluti percontoh yg modis dikumpulkan, kita layak mengintip pula tempo kalakian sebelum menyungguhkan reka cipta modis,” tegas Jusoh. “Untuk melakukannya, aku layak memata-matai gambaran suku sebelumnya per Singapura, tapi tatkala ini aku tiada mengantongi jalan masuk ke informasi ini.”

Data terkandung yakni sebelah per wasiat mayapada Singapura, yg rawan rusak sonder kodifikasi yg telak. Di LKCNHM, Jusoh mengelola rencana pengembalian maya proporsi gendut, mengelola database sketsa digital lagi prospektus yg merinci percontoh tahir dekat museum dekat semua kampung halaman lagi dekat semua Asia Tenggara.

Melalui korpus digital ini, Jusoh bersandar sanggup memperlaju usaha tes alam hewan Singapura. Tetapi selain memanifestasikan reka cipta menjambret kepada mengikat paham yg mau pirsa, sijil suku yg terperinci serupa mengangkat aliran kepada mendorong bungker keberbagaian hayati.

Hanya sama pemilihan yg ensiklopedis lagi tahan, perdua jauhari sanggup fasih transfigurasi yg dialami ekosistem lagi mengikuti suku yg pernah meningkat lagi binasa seperjalanan era. Dengan menenun gambar silsilah mayapada, Jusoh menopang menetapkan suku per tempo kalakian, waktu ini lagi malahan tempo dada dekat Singapura lagi rantau Asia yg bertambah belantara.

“Koleksi lagi reka cipta silsilah mayapada pokok kepada perlindungan suku dekat setiap medan,” mengakhiri Jusoh. “Kita tiada cakap menggambarkan segala sesuatu yg pernah rusak waktu ini, maupun segala sesuatu yg mana tahu rusak dekat tempo dada, eksepsi kita telah pirsa segala sesuatu yg kita miliki dekat tempo kalakian.”


———

Hak Cipta: Majalah Ilmuwan Asia.
Penafian: Artikel ini tiada memantulkan visi AsianScientist maupun stafnya.

Blog